Mengenal Lebih Dekat Kebudayaan Kalimantan Selatan

0
285

Saya Ekky Aulian Valentino akan mencoba memperkenalkan awal sejarah, sistem kekerabatan, dan kebudayaan serta kesinambungannyaa seni dan budaya dari Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan pemanfaatan kemajuan IPTEK pada era ini secara singkat ~_~. Dalam kebudayaan dari Kalimanatan Selatan itu sendiri, saya akan menjelaskan tentang Rumah adat, pakaian adat, tari-tarian, senjata tradisional, suku, bahasa dan kesenian & adat istiadat dari Kalimantan Selatan. Mari kita telaah satu persatu pembahasan yang akan saya jelaskan secara sederhana tentang Kalimantan Selatan.

Sejarah Awal

Kalimantan Selatan atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Kalsel ini merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan, selain Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah. Ibu kotanya sendiri adalah Banjarmasin. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 36.985 Km² serta, penduduknya yang mencapai angka 3,626,616 Jiwa (sensus 2010). Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota. DPRD Kalimantan Selatan dengan surat keputusan No. 2 Tahun 1989 tanggal 31 Mei 1989 menetapkan 14 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan. Tanggal 14 Agustus 1950 melalui Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950, merupakan tanggal dibentuknya provinsi Kalimantan, setelah pembubaran yang dilakukan tentunya oleh Republik Indonesia Serikat (RIS), spesifiknya, oleh gubernur Dokter Moerjani. Kawasan Kalimantan Selatan pada masa lalu merupakan bagian dari 3 kerajaan besar teman-teman, yang diantaranya adalah Kerajaan Negara Daha, Negara Dipa, dan Kesultanan Banjar. Setelah Indonesia merdeka, Kalimantan akhirnya dijadikan provinsi tersendiri dengan Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor. Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan juga diwarnai dengan terbentuknya organisasi Angkatan Laut Republik Indonesia ( ALRI ) Divisi IV di Mojokerto, Jawa Timur yang mempersatukan kekuatan dan pejuang asal Kalimantan yang berada di Jawa. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati menyebabkan Kalimantan terpisah dari Republik Indonesia. Dalam keadaan ini pemimpin ALRI IV mengambil langkah untuk kedaulatan Kalimantan sebagai bagian wilayah Indonesia, melalui suatu proklamasi yang ditandatangani oleh Gubernur ALRI Hasan Basry di Kandangan 17 Mei 1949 yang isinya kurang lebih menyatakan bahwa rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan memaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur tentara ALRI yang melingkupi seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Wilayah itu dinyatakan sebagai bagian dari wilayah RI sesuai Proklamasi kemerdekaaan 17 agustus 1945. Upaya yang dilakukan dianggap sebagai upaya tandingan atas dibentuknya Dewan Banjar oleh Belanda.

Sistem Kekerabatan di Kalimanatan Selatan

Sistem kekerabatan di Kalimantan Selatan, pada (suku Banjar) pada umumnya adalah sama, untuk daerah seluruh Kalimantan Selatan. Suku Banjar sendiri mendasarkan kekerabatan mereka menurut garis dari keturunan ayah dan garis keturunan ibu atau bilateral. Tetapi, memang ya teman-teman, di akui bahwa dalam hal-hal tertentu terutama yang menyangkut masalah kematian, perkawinan, yang menjadi wali asbah adalah garis dari pihak ayah. Dalam hal masalah keluarga besar dan pengertian keluarga besar, maka berlaku garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu, keduanya diberlakukan sama atau seimbang. Masyarakat suku Banjar mengenal istilah Bubuhan, nah, yang saya tahu mengenai istilah bubuhan dalam masyarakat Banjar iniadalah kelompok kekerabatan yang merupakan kumpulan dari keluarga batih yang merupakan satu kesatuan. Bentuk dari kelompok bubuhan ini paling sedikit mempunyai lima unsur atau ciri sebagai berikut :

  1. Mempunyai suatu sistem norma yang mengatur kelakuan warga kelompok.
  2. Mempunyai rasa kepribadian kelompok yang didasari rasa kesadaran oleh semua warganya.
  3. Aktivitas berkumpul warga kelompok bubuhan pada waktu-waktu tertentu. d) Adanya suatu sistem hak dan interaksi serta kewajiban dari warga bubuhan. e) Adanya satu orang yang ditokohkan dalam kelompok bubuhan ini.

 

Rumah Adat

Rumah ini dinamakan Rumah Banjar Bubungan Tinggi yang termasuk kategori rumah panggung yang di mana memiliki atap lancip dan terbuat dari rumbia, serta berbentuk segi empat . Rumah adat terbuat dari kayu dan damar. Di samping kanan kiri ruang utama ada bangunan tambahan yang. menjorok ke luar dari bangunan utama. Bagian depan rumah ini berfungsi sebagai teras yang dinamakan pelatar, tempat anggota keluarga bersantai. Rumah ini dibawahnya juga dapat digunakan untuk menyimpan padi dan sebagainya. Seluruh rumah terbuat dari kayu ulin dan atapnya dari sirap kayu ulin.

Pakaian Adat

Pria : Mengenakan rompi lengan panjang yang dihias dengan motif khusus serta dipadu celana panjang warna serupa. Di bagian pinggang memakai sarung sampai bagian dengkul. Kepala pria memakai destar yang bagian ujungnya agak naik. Sedangkan sebilah keris diselipkan didepan perut.

Wanita : Bagi kaum wanita memakai baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Disebut baju kurung basisit lenngkap karena di bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Bahan baju ini dapat dibuat dari kain sutra. Baju ini dikombinasi dengan tapih di bagian kepala, rambutnya di sanggul serta memakai hiasan kembang goyang yang di sebut sumping. Pakaian pengantin ini berdasarkan adat Banjar.

Tarian Adat

  1. Tari Baksa Kembang, merupakan tai selamat datang kepada tamu agung dengan menyampaikan untaian bunga. Dulunya tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja dan pangeran.
  2. Tari Radap Rahayu, dipertunjukkan pada upacara tepung tawar, sebelum pengantun pria dan wanita dipersandingkan dipelaminan.
  3. Tari Mantang Gandut, tari gandut merupakan jenis tari garapan yang diangkat dari tari tradisional Kalimantan Selatan. Tari ini termasuk jenis tari pergaulan, dimana penari wanita, yang dinamakan Gandut, berusaha menarik simpati penonton, sedangkan penari pria(Mantang) menyambut tantangan itu dengan memilih pasangannya.
  4. Kuda Gepang adalah tarian khas dari Kalimantan Selatan. Tarian ini dulunya digunakan saat upacara menyambut para raja, Kuda Gepang menceritakan tentang kegagahan pasukan berkuda yang dipimpin oleh seorang raja.
  5. Tari Japin Kuala, adalah salah satu Tari Tradisional daerah Kalimantan Selatan. Tari ini menceritakan masyarakat tentang pergaulan muda – mudi di daerah pesisir yang maka masyarakat yang mana para muda– mudi ini tetap menjaga kaidah-kaidah agama khususnya Agama Islam.
  6. Tari Japin Bujang Marindu Merupakan jenis tari berpasangan yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu. Tari mengambarkan kerinduan seorang kekasih setelah lama pergi merantau kemudian kembali ke kampung halaman.
  7. Ladon, merupakan nama pasukan kerajaan Banjar. Tarian ini menggambarkam tari keprajuritan dan semua penarinya laki-laki. Tari ini sering dibawakan sebagai tarib pembuka pada kesenian mamanda yaitu teater tradisonal Banjar, yang pertama kali berkembang dari daerah Margasari, Kabupaten Tapin.

 

Senjata Tradisional

  1. Keris adalah salah satu senjata tradisonal diKalimantan Selatan. Ukurannya paling panjang lebih kurang 30cm dan matanya terlogam lainnya. Senjata buat dari besi dicampur logam lainnya.
  2. Mandau merupakan senjata tradisional suku Dayak, yang semacam golok dan berbentuk panjang, terbuat dari bahan pilihan yang diambil dari batu gunung yang mengandung besi. Hiasan senjata ini berupa bulu burung enggang atau rambut manusia, ditaruh hulu mandau yang terbuat dari kayu atau tanduk.

 

Alat Musik Tradisional

Alat musik yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan adalah babun dan panting. Berikut penjelasannya :

Babun adalah alat musik yang terbuat dari kayu berbentuk bulat, di tengahnya terdapat lubang, dan sisi kanan serta kirinya dilapisi dengan kulit kambing. Cara memainkannya dengan cara dipukul atau ditabuh.

Sementara panting adalah sejenis gambus yang memakai senar. Cara memainkannya adalah dipetik.

 

Suku dan Bahasa Daerah

Suku dan marga yang terdapat didaerah Kalimantan Selatan adalah : Banjang Hulu dan Banjang Kuala, serta Banjar, Dayak, Melayu, Mugis. Sedangkan Bahasa Daerah diantaranya : Banjar, Dayak, Melayu, Mugis.

 

Kesenian Daerah, Lagu Daerah & Adat Istiadat

Kesenian daerah rakyat Kalimantan Selatan antara lain Mamanda (teater tradisional Banjar, Lamut (suku Banjar), Madihin (kesenian suku Banjar), Wayang Kulit Banjar (wayang suku Banjar), Wayang Gung (wayang orang suku Banjar), dan Balian (suku Dayak Bukit, Sapu Tangan Bapucu Ampat (Lagu Daerah), serta Ampar Ampar Pisang (lagu daerah).

Seni dan Budaya

Seni tradisional Banjar adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suku Banjar. Tradisional itu sendiri adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Sedangkan tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah kawan-kawan karena ketidamauan masyarakat untuk mengikuti tradisi tersebut, jadi masyarakat setempat juga harus ada kesadaran untuk tetap menegakkan tradisi tradisional Kalimantan Selatan ini, apalagi dengan adanya berbagai adanya media massa saat ini yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan lebih jauh tentang tradisi tradisionalnasyarakat Kalimanatan Selatan, sehingga kita tidak perlu memisahkan atau menjembatani perkembangan kemajuan informasi saat ini dengan tradisi tradisional budaya daerah manapun yang berdampak meredupkan seni dan budaya di Indonesia . Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin pun sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. Hampir segenap kehidupan masyrakat Banjarmasin pun sampai sekarang masih serba relegius. Di samping itu, masyarakatnya juga masih agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional. Walaupun ada kesempatan pada masa kini untuk memperkenalkan berbagai (teknologi) alat-alat modern yang dapat membantu para masyarakat untuk bekerja lebih efisien, tanpa harus mengurangi tentunya

unsur-unsur tradisi masyarakat. Ikatan kekerabatan mulai longgar dibanding dengan masa yang lalu bahkan sampai saat ini, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan. Emosi keagamaan pun terasa masih jelas nampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan. Orang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan religi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan asimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, yaitu Hindu dan Budha. Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar nampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transport, Tari, Nyayian dan sebagainya. Dengan adanya perkembangan era informasi dan komunikasi saat ini, masyrakat Banjar diharapkan dapat memaksimalkannya tidak hanya melestarikan ikatan kekerabatan tanpa harus meninggalkannya, akan tetapi juga memperkuatkannnya seiring dengan kemajuan zaman di era Globalisasi ini, sehingga prinsip dan ideologi masyarakat Banjar tetap dapat bertahan tanpa adanya lekang waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here