PMKS Yogyakarta Adakan Diskusi Publik Sebagai Wujud Kepedulian Terhadap Banua

0
105
Sumber: Humas PMKS Yogyakarta

Bertempat di Gedung Perteman Pangeran Antarasi, Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) Yogyakarta melaksanakan sebuah acara diskusi publik dengan tema Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Kalimantan Selatan (24/2). Kegiatan diskusi publik ini dibuka oleh ketua PMKS Yogyakarta, Ahmad Rasyid Riadhi, dalam sambutannya ia mengatakan bahwa kegiatan ini dibuat sebagai wujud kepedulian mahasiswa Kalimantan Selatan yang ada di Yogyakarta terhadap apa yang terjadi di Banua khususnya mengenai keluarnya izin pertambangan batu bara di Hulu Sungai Tengah beberapa waktu lalu, “ketika orang-orang beramai-ramai berteriak, kita ikut berteriak maka kita hanya menambah nyaring teriakan itu tapi ketika orang sudah mulai kurang berteriak, kita berteriak maka kita akan didengar,” ucap Rayid.

Selain itu, tujuan dari diadakannya diskusi publik ini adalah untuk menghimbau masyarakat untuk lebih mencintai dan menjaga lingkungan, dan sebagai wujud permintaan kepada pemerintah agar dapat lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat dipedalaman.

Kegiatan diskusi publik ini dikemas dalam bentuk diskusi panel dengan pembicara dari berbagai latar belakang yaitu Martadani, Dosen Universitas Widya Mataran; Hairus Salim, Direktur Eksekutif Yayasan LKiS Yogyakarta, dan Adi sebagai perwakilan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta. Kegiatan ini sendiri dihadiri oleh mahasiswa Kalimantan Selatan dari berbagai kabupaten sebanyak lebih dari 100 orang.

Sesuai dengan tema, fokus diskusi mengarah kepada persoalan tambang batu bara yang ada di Kalimantan Selatan baik yang sudah ada maupun yang masih dalam proses perizinan. Martadani memaparkan pembahasan mengenai batubara dan hubungannya dengan pemerintahan, sedangkan Hairus Salim mengaitkan kepedulian terhadap alam dengan teologi,

Dalam diskusi tersebut, Hairus Salim berpesan bahwa seluruh masyarakat Kalimantan Selatan dari berbagai kalangan manapun harus bersatu dalam menyelamatkan kelestarian lingkungan Kalimantan Selatan, “ini yang paling penting disadari, bahwa ini ekosistem jadi ini bukan soal Banjar ini bukan soal Meratus, orang hulu atau orang hilir, orang kota atau orang desa tapi ini masalah kita bersama, kerusakan dihulu akan mengakibatkan kehancuran di hilir,” Jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa solidaritas antar masyarakat juga harus selalu dijaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here